Categories

« January 2007 | Main | April 2007 »

Katakan Tidak pada Promosi Susu Formula

Ketika berbelanja di suatu pasar swalayan -beberapa bulan lalu- saya cukup heran ketika rak pendingin yang mulanya menjadi tempat pajangan keju berganti isi. Dan yang mengejutkan, keju kini menghuni lemari yang sama dengan susu formula!

Saya tidak mempermasalahkan tempat penyimpanan keju itu (selama kemasan belum dibuka, beberapa jenis keju tidak harus disimpan di rak pendingin). Tapi saya sudah membayangkan, si mbak penjaga rak susu formula PASTI akan menyapa (minimal) dan mempromosikan produk yang diwakilinya pada saya; ibu yang membawa bayi!

Prasangka buruk saya tidak sia-sia. Keju saya dapat, sapaan pun saya peroleh. Risiko.

Wah anaknya lucu ya, bu?

Saya cuma tersenyum.

Umurnya berapa bulan, bu?

Nah, mulai deh pertanyaan pembuka. "7 bulan", kata saya.

Susunya apa, bu?

Tuh kan. "ASI!", jawabku pendek.
Si mbak kelihatan terkejut.

Lho kan ASI sudah tidak mencukupi lagi, bu, di usianya yang sekarang?

Tentu saja tidak. "Kan ada MP (makanan pendamping)-ASI", saya tetap menjawab pendek.

Tapi ASI saja tidak cukup lho, bu. Dia perlu tambahan susu formula.

Saya mulai malas menyimak. "Produksi ASI saya masih banyak kok", berharap percakapan terputus oleh sesuatu. Duh, kok kuitansinya lama banget sih jadinya? Saya lirik suami. Antrian agak panjang.

Si mbak terdiam sejenak. Harus ganti jurus tampaknya.

Tidak akan diberi tambahan susu formula?

Sampai dia menyapih dirinya sendiri, pikir saya. "Nanti kalau umurnya sudah lebih dari satu tahun baru ditambah susu UHT". Nah lho!

Si mbak kaget lagi.

Susu UHT? Itu kan susu untuk orang dewasa, bu? Tidak cocok untuk anak kecil

Si mbak promosi sama orang yang 'salah' deh. Aku yang mulai malas meladeni, mengeluarkan jurus kambing hitam.

"Yang menyarankan itu dokter anak kok, mbak. Lagipula susu UHT tidak hanya untuk dewasa, yang penting usia konsumen sudah di atas 1 tahun". *gak percaya? coba cermati kemasan susu UHT!*

Si mbak bingung.

Begini bu, di usia pertumbuhannya kan anak-anak butuh nutrisi penting. Susu formula ini dilengkapi dengan DHA, nukleotida, [...]

Saya sudah tidak menyimak lagi. Daud mulai resah. Lapar. Protes. "Maaf ya mbak, saya buru-buru, anak saya belum makan malam", kataku. "Nangis yang kenceng aja, yang. Protes ama mbaknya!", batinku.

Saya tidak bermaksud mencela profesi SPG dan tingkat pendidikannya. Dan tidak pula bermaksud sok pintar. Yang saya sangsi adalah SPG dibekali 'pengetahuan' yang netral, yang tidak hanya mendukung kelancaran promosi.

Saya tidak anti pada produk susu formula. Tapi saya muak dengan cara promosinya. Arif bilang itu pembodohan. Saya setuju.

Susu formula adalah the NEXT best thing. NEXT! Dengan huruf kapital, seperti yang saya katakan dalam komentar di tulisan Arif tadi.

Ibu memang melahirkan generasi penerus, next generation. Tapi itu tidak berarti kami HARUS melengkapi asupan nutrisi mereka dengan yang kualitasnya 'next'.

Bagi ibu yang kesulitan dalam menyusui, carilah solusi bagi masalah yang dialami sebelum memilih susu formula sebagai penambal. Bagi ibu yang tidak kesulitan, sebaiknya jangan mencari kesulitan baru dengan memiliki persediaan susu formula sebagai 'jaga-jaga'. (Oh yes! Persediaan itu akan menimbulkan godaan. Jika kadaluarsa, 'sayang' kan uang terbuang?)

Ketika ASI, si kualitas nomor satu, the BEST thing, masih diproduksi dengan baik, pemberian susu formula pada bayi adalah pemborosan. Dan ketika susu formula ditawarkan pada ibu yang jelas-jelas MENYATAKAN memberikan ASI secara penuh, ini jelas strategi pemasaran yang tidak sehat. Sama sekali tidak etis.

Saya anjurkan kepada para ibu hamil untuk waspada dalam memilih tempat untuk melahirkan. Tak jarang rumah sakit memberikan susu formula bayi yang mahal pada bayi baru lahir (jika bayi sudah terbiasa, sulit menggantinya!).

Apalagi bagi anda yang bertekad untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Jangan sungkan (jangan! itu hak anda!) untuk merepotkan diri, mengingatkan perawat bahwa anda akan memberikan ASI eksklusif. Jika perawat berganti giliran (shift), mereka bisa menggunakan alasan 'tidak tahu' jika anda kurang 'cerewet' mengingatkan. Akan menjadi ideal jika ibu dapat memilih rawat-gabung (rooming in).

Jika susu formula bayi ditawarkan (atau bahkan diberikan tanpa persetujuan) pada anda, mereka telah melanggar hukum. Saya gemas. Jengkel. Dan saya tidak akan berhenti sampai di sini.