Katakan Tidak pada Promosi Susu Formula
Ketika berbelanja di suatu pasar swalayan -beberapa bulan lalu- saya cukup heran ketika rak pendingin yang mulanya menjadi tempat pajangan keju berganti isi. Dan yang mengejutkan, keju kini menghuni lemari yang sama dengan susu formula!
Saya tidak mempermasalahkan tempat penyimpanan keju itu (selama kemasan belum dibuka, beberapa jenis keju tidak harus disimpan di rak pendingin). Tapi saya sudah membayangkan, si mbak penjaga rak susu formula PASTI akan menyapa (minimal) dan mempromosikan produk yang diwakilinya pada saya; ibu yang membawa bayi!
Prasangka buruk saya tidak sia-sia. Keju saya dapat, sapaan pun saya peroleh. Risiko.
Wah anaknya lucu ya, bu?
Saya cuma tersenyum.
Umurnya berapa bulan, bu?
Nah, mulai deh pertanyaan pembuka. "7 bulan", kata saya.
Susunya apa, bu?
Tuh kan. "ASI!", jawabku pendek.
Si mbak kelihatan terkejut.
Lho kan ASI sudah tidak mencukupi lagi, bu, di usianya yang sekarang?
Tentu saja tidak. "Kan ada MP (makanan pendamping)-ASI", saya tetap menjawab pendek.
Tapi ASI saja tidak cukup lho, bu. Dia perlu tambahan susu formula.
Saya mulai malas menyimak. "Produksi ASI saya masih banyak kok", berharap percakapan terputus oleh sesuatu. Duh, kok kuitansinya lama banget sih jadinya? Saya lirik suami. Antrian agak panjang.
Si mbak terdiam sejenak. Harus ganti jurus tampaknya.
Tidak akan diberi tambahan susu formula?
Sampai dia menyapih dirinya sendiri, pikir saya. "Nanti kalau umurnya sudah lebih dari satu tahun baru ditambah susu UHT". Nah lho!
Si mbak kaget lagi.
Susu UHT? Itu kan susu untuk orang dewasa, bu? Tidak cocok untuk anak kecil
Si mbak promosi sama orang yang 'salah' deh. Aku yang mulai malas meladeni, mengeluarkan jurus kambing hitam.
"Yang menyarankan itu dokter anak kok, mbak. Lagipula susu UHT tidak hanya untuk dewasa, yang penting usia konsumen sudah di atas 1 tahun". *gak percaya? coba cermati kemasan susu UHT!*
Si mbak bingung.
Begini bu, di usia pertumbuhannya kan anak-anak butuh nutrisi penting. Susu formula ini dilengkapi dengan DHA, nukleotida, [...]
Saya sudah tidak menyimak lagi. Daud mulai resah. Lapar. Protes. "Maaf ya mbak, saya buru-buru, anak saya belum makan malam", kataku. "Nangis yang kenceng aja, yang. Protes ama mbaknya!", batinku.
Saya tidak bermaksud mencela profesi SPG dan tingkat pendidikannya. Dan tidak pula bermaksud sok pintar. Yang saya sangsi adalah SPG dibekali 'pengetahuan' yang netral, yang tidak hanya mendukung kelancaran promosi.
Saya tidak anti pada produk susu formula. Tapi saya muak dengan cara promosinya. Arif bilang itu pembodohan. Saya setuju.
Susu formula adalah the NEXT best thing. NEXT! Dengan huruf kapital, seperti yang saya katakan dalam komentar di tulisan Arif tadi.
Ibu memang melahirkan generasi penerus, next generation. Tapi itu tidak berarti kami HARUS melengkapi asupan nutrisi mereka dengan yang kualitasnya 'next'.
Bagi ibu yang kesulitan dalam menyusui, carilah solusi bagi masalah yang dialami sebelum memilih susu formula sebagai penambal. Bagi ibu yang tidak kesulitan, sebaiknya jangan mencari kesulitan baru dengan memiliki persediaan
susu formula sebagai 'jaga-jaga'. (Oh yes! Persediaan itu akan
menimbulkan godaan. Jika kadaluarsa, 'sayang' kan uang terbuang?)
Ketika ASI, si kualitas nomor satu, the BEST thing, masih diproduksi dengan baik, pemberian susu formula pada bayi adalah pemborosan. Dan ketika susu formula ditawarkan pada ibu yang jelas-jelas MENYATAKAN memberikan ASI secara penuh, ini jelas strategi pemasaran yang tidak sehat. Sama sekali tidak etis.
Saya anjurkan kepada para ibu hamil untuk waspada dalam memilih tempat untuk melahirkan. Tak jarang rumah sakit memberikan susu formula bayi yang mahal pada bayi baru lahir (jika bayi sudah terbiasa, sulit menggantinya!).
Apalagi bagi anda yang bertekad untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Jangan sungkan
(jangan! itu hak anda!) untuk merepotkan diri, mengingatkan perawat
bahwa anda akan memberikan ASI eksklusif. Jika perawat berganti giliran
(shift), mereka bisa menggunakan alasan 'tidak tahu' jika anda
kurang 'cerewet' mengingatkan. Akan menjadi ideal jika ibu dapat
memilih rawat-gabung (rooming in).
Jika susu formula bayi ditawarkan (atau bahkan diberikan tanpa persetujuan) pada anda, mereka telah melanggar hukum. Saya gemas. Jengkel. Dan saya tidak akan berhenti sampai di sini.

wah hebat sekali kampanye asi nya ya mba lita.salam kenal.
sy memproduksi baju2 khusus u/ ibu menyusui agar bs menyusui dgn lebih nyaman di public spaces.
tp masalah susu formula..menurut sy yah jgn disikapi terlalu jauh karena mungkin setiap ibu memiliki pengalaman yang berbeda. Anak sy 6bln ASI ekslusif, inginnya sih terus sampai 2tahun. Tp di usia dia 9bln sy terserang DB sampai hrs tranfusi krn kurang darah, cairan dan asupan. Sy terus mencoba mencari jalan agar ASI keluar sampai habis hati dan tangisan saya, sampai saking kekeuh nya sy biarkan anak sy haus dan lapar u/ bertahan tdk menggunakan susu formula. kmdn anak sy berat badan drop, dehidrasi dan mungkin keegoisan sy harus berhenti...
Sy samapi beli vitamin jutaan dan rela makan apa sj dan melakukan apa saja,tp ASI berhenti.
Yah...cuman masukan aja, kl kita syiar sesuatu...do it nicely, because you really don't know what other people going through. It might hurts them..... Kadang susu formula bukan pelarian spt byk org, but things happenned,and they did try, hard...like i did.
Posted by: alfita | May 11, 2007 04:43 PM
Bunda, terimakasih sudah menanggapi. Soal ini (tanggapan sejenis), di bananaTALK (http://lita.inirumahku.com)sudah saya jelaskan.
Terhadap mbak SPG, saya bersikap sesopan yang saya mampu. Ngedumel ya dalam hati (tidakkah kita semua pernah demikian?).
Yang harus digarisbawah adalah saya menentang PROMOSInya, bukan susu formulanya. Bukan ngga beda. Ini dua hal prinsipal yang berbeda.
Saya tidak berkeberatan dengan kehadiran susu formula. Seperti saya katakan, susu formula (infant formula) sangat membantu para ibu yang tidak mampu menyusui secara penuh. Anak pertama saya juga kebagian susu formula sejak lahir.
Yang tidak saya setujui adalah bagaimana promosi susu formula dilakukan sedemikian rupa sehingga membujuk ibu yang jelas-jelas menyatakan menyusui (saja) anaknya untuk memberi suplemen/tambahan berupa susu formula. Ini jelas tidak benar secara hukum. Untuk susu formula di bawah 1 tahun, promosi tidak boleh dilakukan langsung terhadap ibu.
Ini masalah pelanggaran kode etik internasional, bukan kampanye menyusui secara eksklusif, bunda :)
I do think I'm doing it nicely. Mengajak ibu lain untuk berani berkata tidak, bahkan menjelaskan mengapa ia berkata tidak (ngga sekedar melengos lalu pergi sambil terus dikejar-kejar bagian promosi).
Soal susu formula. Mungkin tampak disikapi terlalu jauh. Tapi promosi susu formula sudah terlampau jauh melanggar privasi ibu yang MEMILIH, MAMPU, dan MENYATAKAN menyusui. Ini perlu disikapi tidak dengan sekadar 'berkata sopan', tapi juga berani menunjukkan di mana salah mereka. Which is what I did.
Maaf, mungkin tulisan ini mudah disalahmengerti :)
Posted by: Lita | May 19, 2007 12:25 PM
setuju bu Lita atas sikapnya terhadap promosi susu formula. memang terkadang dalam merayu ibu2 menyusui, promosi susu formula dilakukan sedemikiyan rupa SEAKAN-AKAN susu formula dengan kandungan DHA, Spingomyelin dlsbg adalah LEBIH BAIK & LEBIH LENGKAP dibanding ASI, which is absolutely NOT TRUE!
Posted by: Hermawanov | December 31, 2007 09:44 PM
bu dokter,,,saya minta referensi dunk ttg keunggulan ASI dibanding susu formula.Pembandingan komposisi ASI dan formula, Boikot Produk Nestle karena dianggap membunuh bayi, Kesalahan produksi susu formula hingga Kode Etik pemasaran Susu formula oleh WHO.
saya sangat membutuhkan untuk membuat essay,,,
trimakasih
Posted by: manal | April 19, 2008 10:26 AM